Tuesday, October 27, 2015

Telinga Ibu


“bisa saya melihat bayi saya?” pinta seorang ibu yang baru saja melahirkan dengan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil, sang menahan nafasnya.
Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu ternyata terlahir tanpa kedua belah telinga. Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya saja penampilannya tampak aneh dan buruk.
Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu dan menangis terisak-isak.
“tadi ada seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh”. Ujarnya.
Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Walau tidak memiliki daun telinga, ia cukup tampan dan disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya dibidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.
Suatu hari ayah ank lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan daun telinga untuk putranya.
“saya yakin mampu memindahkan sepasang daun telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya,” kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, “ nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia,”kata sang ayah. Operasi pun berjalan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, “ yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mendonorkan telinganya kepadaku. Ia telah berbuat sesauatu ynag besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya. “ ayahnya menjawab, “ ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hatinya orang yang telah memberikan semua itu.” Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, “ sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini.”
Tahun berganti tahun. Kedua orang tua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang meneydihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibakkannya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tak memiliki telinga.
“ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkann rambutnya,” bisik sang ayah. “dan tak seorangpun menyadari bahwa ia telah kehinlangan sedikit kecantikannnya bukan?”
Kecantikan yang sejati tidak terletak  pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakikat tidak terletak pada apa yang bisa terlihaat, namun pada apa yang tidak adapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak apada apa yang telah dia kerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

0 comments:

Post a Comment

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com